Minggu, 02 Desember 2012

TAK LAYAKKAH AKU HIDUP BAHAGIA? << LEBAY SANGAT JUDULNYA LOL

Hari ini, bakalan full curcol dari hatiku yang paling dalam...

Mungkin beberapa dari kalian terutama temen dekatku tau soal idupku, tapi mungkin gak lengkap, karena aku juga gak pernah cerita yang sedih-sedih ahahaha... Cuman, kali ini aku mau cerita lebih lengkap aja deh. Kenapa? Karena aku bingung. Aku gak tau lagi harus ngapain. Hatiku terasa pedih. Bahkan saat mengetik ini aku menangis dan menghabiskan hampir 1 roll tissue hahaha... Mau cerita ke teman, tapi kok ya gak enak kalau harus nyusahin teman .___. Mau cerita ke keluarga? Hm, aku bahkan nyaris seperti tidak punya keluarga XD;; 

Oke, di mana aku harus memulainya? Ah, dari masa kecilku saja kali ya. 

Masa kecilku, dibilang bahagia ya bahagia, dibilang tidak bahagia ya tidak bahagia juga #bingung Aku tinggal di rumahku sejak aku masih TK, bersama dengan adik perempuanku yang berusia lebih muda 6 tahun dariku, dengan mamiku, dan juga papiku. Rasa-rasanya cukup bahagialah meski kami hidup kekurangan. Tak pernah ada mainan, tak pernah ada makanan enak, tak pernah ada waktu berkumpul sekeluarga. Yeah, kami bukan keluarga mampu. Meski engkongku -papanya mami- adalah orang kaya yang punya pabrik dan punya "nama" tetapi tetep aja, hidup sendiri-sendiri lah ya. Apalagi papiku itu kerjaannya gak pernah jelas. Apa ya namanya? Dukun? Hm, kayak begitulah. Jadi mamiku lah yang jadi tulang punggung keluarga. Mami yang besarin aku, yang selalu mendisplinkan aku, dan yang selalu memukulku jika aku gak mau belajar atau melanggar aturannya hahaha... Sedangkan papi, jarang sekali berada di rumah. Sekalinya ada palingan mendekam di kamarnya sendiri, entah berbuat apa.

Aku lupa saat itu aku berusia berapa tahun, mungkin kelas 2 SD? 3 SD? atau 4 SD? Malam-malam, ada seorang nenek yang datang sambil membawa 2 anak kecil. Pada akhirnya aku ketahui mereka adalah saudara kandungku. Jadi, aku punya 2 kakak laki-laki, dan seorang kakak perempuan. Tentu saja aku senang, karena saat itu aku memang sangat ingin punya kakak. Tetapi, bertahun-tahun kemudian aku menyesal hahaha...

So, saat aku masuk SMP, mamiku memutuskan untuk bercerai dengan papi. Shock? Iya! Tentu saja! Tapi aku menutupinya dengan bersikap "cool" seolah tak ada apa-apa yang mempengaruhi. Padahal saat itu hatiku hancur. Teman-temanku setiap ke sekolah selalu diantar oleh ayahnya, sedangkan aku? Antar jemput hahaha... But ya sudahlah, setahun kemudian aku menerimanya dengan lapang dada karena aku tahu papiku tukang selingkuh XD;; Tidak mungkin kan memaksa mami untuk tetap bersama dengan seseorang yang jelas-jelas sudah berselingkuh? Nee?

Kemudian, saat aku masuk SMA, mamiku memutuskan untuk bekerja di Amerika. Saat itu sebenarnya aku merasa berat. Aku tidak mau mamiku pergi, tapi berhubung mami menyakinkanku bahwa beliau hanya pergi selama 3 tahun, ya sudahlah... Tapi... Bahkan sampai tahun ini pun, yang sudah hampir genap 10 tahun, belum juga pulang =___=a Alasannya? Banyak! Akan kuceritakan satu persatu...

Seharusnya mami pulang tahun 2005, tapi ternyata uang yang dihasilkan oleh mamiku ludes terpakai untuk main saham atau lebih kerennya main judi (???) saham itu judi bukan sih? XD;; yeah, kakak lelakiku yang pertama, seorang broker, dan salah mengambil langkah. Dia memakai semua uang mamiku, dan akhirnya kalah. Kalau gak salah sih 300juta melayang, atau mungkin lebih? Aku gak tau... Yang pasti, menurut pengakuan saudara yang lain, uang itu tidak pernah kembali meskipun sekarang dia sudah menjadi orang sukses.

Gak cuma sampai di situ, kakak lelakiku yang satunya terlibat hutang dengan bank. Tidak hanya 1, melainkan banyak! Dan hutangnya mencapai puluhan juta rupiah, itu baru 1 bank. Keren gak sih? Akhirnya siapa lagi yang bayar kalau bukan mamiku? Yeah, pupus lagi keinginan untuk melihat mamiku pulang @____@

Tahun 2009 adalah tahun tersulitku. Akhir tahun tepatnya desember awal, aku dipanggil oleh sekolahannya adikku. Di sana aku diberitahu kalau adikku... hamil...

Shock. Ini bahkan lebih shock dari berita perceraian papi dan mami. What the fuck?!? Adikku selama ini pacaran selalu berbuat hal-hal yang dilarang? Dan hamil? HELL!!! 

Tetapi mau gimana lagi? Sudah hamil, 6-7bulan aku lupa, sudah besar kandungannya. Dan yang laki -yang awalnya mau bertanggung jawab- taunya malah dipenjara oleh kakak pertamaku. 

Tanpa perlu bertanya, aku tahu semua orang menyalahkanku atas kehamilan adikku. Kakak pertamaku jelas bilang bahwa akulah yang selalu berada di dekat adikku, jadi harusnya aku tahu apa yang diperbuat adikku. Kakak perempuanku memakiku bahkan menyumpahiku tidak menikah gara-gara kejadian ini. Bahkan dia menampar kedua pipiku. Sakit hatiku. Jujur... Kalau saja aku gak ingat kalau mati itu gak enak, aku udah tenggak banyak aspirin atau meminum baygon yang selalu jadi favoriteku untuk mengusir serangga. 

Dengan hati pedih, aku tetap tersenyum. Karena adikku rapuh saat itu, setiap hari menangis dan menangis terus menerus. Aku sayang padanya, meskipun dia memang sudah mengecewakanku. Tapi, aku tetap sayang padanya. Karena itu, sejak itu aku menjaganya dengan baik. Aku membelikan dia obat penguat kandungan, beli anmun, ini dan itu. Bahkan aku lah yang mengurus segala keperluan bayinya. Mulai dari baju, popok, segalanya. Aku juga yang mengantarnya kontrol ke dokter kandungan, karena yeaaah, yang lain pada malu dengan kejadian ini.

Akhirnya, Februari 2010, tepatnya tanggal 15 jam 4.20. Anak adikku lahir. Dialah Farrel, anakku tercinta. Aku mengasihinya, mencintainya, menyayanginya, sejak pertama kali melihatnya. Aku yang mengawasi detik-detik kelahiran itu, saat pantat mungil itu keluar, saat suaranya pertama kali terdengar. Sungguh amazing. Bahkan aku lebih bahagia, seperti baru saja melahirkan anakku sendiri. 

Hari-hariku mulai berwarna sejak adanya Farrel. Tapi...

Adanya Farrel juga merupakan petaka bagi yang lain. Kakak pertamaku akan menikah, dan calon istrinya sungguh terganggu dengan kehadiran Farrel. Dia sering sekali ribut dan berkata "haduh gimana ya? masa nanti nikahanku ada anak itu? nanti kalau ditanya orang bagaimana?"

SERIOUSLY! I HATE HER! UNTIL NOW! Sungguh kurang ajar! Apalagi saat pernikahannya, dia membuat perkara denganku. Dia bilang kalau aku ini bukan siapa-siapanya (HAHAHA! LUCU!)

Aku cukup heran. Dia dan suaminya pakai RUMAHKU! Yeap saudara saudari, dia tinggal di rumah yang dibelikan mamiku, rumah yang baru dibangun, yang seharusnya menjadi milikku, tetapi pada akhirnya ditinggali oleh mereka. Dan apa? Mereka bahkan tidak pernah berterima kasih padaku walau sudah 3 tahun mereka tinggal di sana =____=;; Serius lah ya, kalau kayak begini, mana bisa aku rela? Huh?

I don't know why, sejak kejadian yang berulang-ulang itu, aku jadi semakin jauh dari keluargaku. Bahkan dari adikku sendiri. Januari tahun 2012, aku shock dengan segala tingkah laku dia, yang sebaiknya aku tidak perlu ceritakan di sini. Yang pasti, dia benar-benar tidak menghormatiku sama sekali sebagai kakaknya! Kurang sabar apa aku selama ini padanya? Aku bahkan dimaki oleh dia, dan bahkan disumpahi MATI. Yeap, anda tidak salah baca. Aku disumpahi mati ha...ha...ha...

Akhirnya aku mengusir adikku keluar dari rumah, sedangkan Farrel tetap tinggal bersamaku karena aku tidak mau dia menjadi gelandangan di luar sana.

And here we are. Farrel and I... Happy (???) Family

Awal-awal memang agak shock karena harus menjaga Farrel sekaligus menjalankan warnet. Tapi lama-lama pun aku terbiasa. Hanya saja... Akhir-akhir ini...

Aku merasa ada sesuatu di dadaku yang mendesak ingin keluar. Aku terus menahannya, akibatnya aku jadi cepat emosi, cepat marah. Farrel bahkan kena pukul ketika dia berbuat salah seperti menumpahkan susu coklat di selimut putih atau melakukan tindakan gila seumuran dia yang bagiku cukup mengganggu. Oke, anak kecil! Seharusnya aku mengerti! Tapi aku gak bisa! Aku gak tau, ada apa denganku??? Kenapa aku bisa segitu emosinya? Aku bahkan bisa sangat marah hanya karena dia tidak mau memakan makanannya. 

Di lubuk hatiku, kadang aku menyalahkan kehadiran Farrel. Kadang aku mikir, seandainya Farrel gak ada, mungkin aku sudah menjadi AKU yang bebas, yang sangat mencintai alam, bersenang-senang, melakukan apapun yang ingin aku lakukan. 

BODOH! BAGAIMANA MUNGKIN AKU BISA BERPIKIR BEGITU???

Farrel itu anak yang sangat mengagumkan. Dia tampan, bulu matanya lentik, matanya besar, dagunya lancip. Sifatnya juga menyenangkan. Setiap dia tertawa, hatiku berasa sangat senang. Jadi kenapa aku bisa berpikir sesuatu yang menyedihkan???? KENAPA???

Berbulan-bulan, wajahku tersenyum, tapi hatiku menangis. Aku menangis ketika aku menyadari kalau aku begitu sangat iri dengan teman-temanku yang lainnya. Satu persatu mereka menikah. Yang single pun bahagia, mereka bisa jalan-jalan keluar, menikmati masa mudanya.

Di saat mereka memakai make up, aku justru tampil polos tanpa bedak. Di saat mereka pakai high heels, aku malah pakai kets. Di saat mereka pakai rok mini, aku pakai celana jeans ibu-ibu. IYAH! Aku iri dengan mereka!!!

Tapi tentu saja, harusnya aku tidak menyalahkan Farrel! Deshou? Aku bahagia dengan adanya Farrel, tapi tentu saja, lubuk hatiku terdalam masih menyimpan sesuatu yang tidak membuatku bahagia. Aku harus bagaimana? Aku merasa bersalah pada Farrel. Apakah aku tidak layak menjadi ibunya? Apakah aku tidak bisa bahagia hidup bersama dengan Farrel?

Semua perasaan ini... Apakah karena aku menyadari bahwa 3 tahun lagi aku akan berpisah dari Farrel? 

Adikku berniat untuk mengambil Farrel 3 tahun mendatang. Dan kupikir sejak itulah aku mulai berubah. Aku menjadi sangat jahat. Aku jadi sangat lemah. Aku merasa...

Untuk apa aku besarin Farrel kalau pada akhirnya Farrel akan pergi dariku?

Untuk apa aku berniat tidak menikah demi Farrel jika pada akhirnya Farrel akan pergi dariku?

Untuk apa aku melakukan semua ini? Untuk apa? Untuk apa???

Air mata ini selalu saja tumpah. Gak pagi, gak siang, gak malam. Aku sedih. Aku merana. Tapi gak ada seorang pun yang tahu. Sepandai inikah aku menyimpan semua kegalauan hatiku???

Aku hanya ingin bahagia... Aku tahu aku sudah bahagia dengan adanya Farrel. Tapi aku manusia! Aku egois dan berkeinginan besar. Aku ingin lebih bahagia!!! Gak boleh?

Sebenarnya untuk apa aku hidup? 25 tahun hidupku tidak pernah ada yang benar. Masa kecilku, perpisahan orang tuaku, kehadiran kakak-kakakku, hamilnya adikku. Aku salah apa? Kenapa? Kenapa harus aku? Kenapa harus aku yang mengalami semua ini? Kenapa aku tidak bisa menjadi orang kebanyakan yang begitu senang hidupnya? Kenapa?

4 komentar:

  1. mamiii... peluk :'(

    *baru baca dan ini mengharukan banget*

    mami yang kuat ya :')
    mami ga sendirian :D

    ファイト!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahahaha~ makasih ya Rin #peluk2

      Sampai saat ini mami masih mencoba untuk tetap kuat, bisa kok pasti bisa, jalanin semua ini pasti bisa, nyatanya mamimu ini masih hidup sampai sekarang kan? XD

      Semoga aja masih bisa ampe bertahun tahun kemudian lagi XD;;

      Hapus
    2. Wow, you have the biggest heart ever. Reading this post just makes me realize I should be more grateful with my own life. You're still young and have been through a lot and yet always being strong, that's amazing! Very inspiring!

      Hapus
    3. Thank you dear #hugs I'm stronger now, thanks to all my friends who supporting me no matter what :)

      Hapus